Monday, 22 July 2013

Pengembangan Pola Pikir (Kognitif)

A. Pengertian Perkembangan
Istilah perkembangan  berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh Van Den Daele “perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”.  Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) “perkembangan” adalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata “berkembang” Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ini berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya.
Perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya itu sendiri. Dengan kata lain, penekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik. Perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia mengakhiri hayatnya.

B. Pengertian Guru Profesional
Guru sekolah dan madrasah harus berkualifikasi akademik dan memiliki kompetensi sebagai agen belajar (learning agent), sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sebagai learning agent, seorang guru harus memiliki kompetensi memicu kegiatan belajar siswa.
Secara sederhana kom­petensi guru (teacher competency) dapat didefinisikan sebagai kemampuan seorang guru dalam melaksanakan ke­wajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Selanjutnya, kom­petensi profesionalisme guru dapat dimaknai sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Alhasil, guru yang piawai dalam melaksanakan profesinya (terutama dalam merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar siswa) dapat disebut sebagai guru yang kompeten dan profesional.
Lebih lanjut, secara umum kata “profesionalisme” (professionalism) yang sering mengiringi kata kompetensi itu dapat dipahami sebagai kualitas dan tindak-tanduk khusus yang merupakan ciri orang professional. Ada­pun kata “profesionalitas” yang terkadang diucapkan dan ditulis sebagian orang itu se­sungguhnya tidak ada, karena kata professionality yang dianggap sebagai bentuk asli dari profesiona­litas itu tidak dikenal kecuali mungkin dalam perkiraan sebagian orang itu saja. Oleh karenanya, marilah kita tinggalkan istilah profesionalitas dan kita gunakan istilah profesionalisme saja! Istilah “profesional”(professional) aslinya merupakan kata sifat dari kata profession (pekerjaan) yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan. Selain sebagai kata sifat, professional juga merupakan kata benda yang  lebih kurang berarti orang yang melak­sanakan sebuah profesi dengan menggunakan profisiensi (kemampuan tinggi di bidang tertentu) sebagai mata pencaharian yang relatif menetap.
Berdasarkan pertimbangan arti-arti di atas, maka pengertian guru pro­fesional adalah guru yang melaksanakan tugas keguruan dengan kemam­puan tinggi (proficiency) sebagai pengabdian sekaligus sumber kehidupannya.  Kebalikannya, guru amatir, yang di Barat disebut sub-professional seperti teacher-aide (asis­ten guru atau guru bantu). Di Australia, asisten guru ini dikaryakan untuk membantu guru profesional dalam mengelola kelas, tetapi tidak mengajar. Kadang-kadang, guru amatir itu ditugasi mena­ngani keperluan belajar kelompok siswa tertentu, misalnya kelompok siswa imigran.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
1) Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
2) Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
3) Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
4) Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
5) Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
C. Ragam Kompetensi Psikologis Guru Profesional
Selanjutnya, dalam menjalankan kewenangan profesionalnya guru ditun­tut memiliki aneka ragam kecakapan psikologis (psychological competencies) yang meliputi:
1. Kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta), yakni: memiliki pelbagai pengetahuan kependidikan/ keguruan dan pengetahuan mengenai materi bidang studi/mata pelajaran pegangan/vaknya;
2. Kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa), yakni memiliki: konsep diri dan harga diri, keyakinan akan kemampuan dirinya dalam mengatasi keterbatasan ruang dan  waktu pembelajaran, dan sikap penerimaan yang positif terhadap diri sendiri dan siswa;
3. Kompetensi psikomotor (kecakapan ranah karsa), yakni memiliki: kecakapan fisik berupa kecakapan verbal dan nonverbal baik yang bersifat umum maupun khusus seperti: kefasihan dalam menguraikan materi, kepiawaian dalam menulis, menggambar, dan memeragakan keterampilan membuat/melakukan sesuatu yang  berkaitan dengan materi pelajaran.
Di sini  pembahasan terbatas pada ranah kognitif saja.
D. Teori Perkembangan Kognitif
            Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
1.       Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2.       Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
3.       Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4.       Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
E. Pendidikan dan Pengembangan Pola Pikir

Aspek Dasar Pendidikan
Dari manusia dilahirkan hingga nafas terakhirnya diudara kehidupan, ada satu aktifitas yang tidak pernah berhenti dilakukannya, yakni pembelajaran. Pembelajaran dalam kaitannya dengan bahasan ini adalah sebuah aspek dasar dari sistem pendidikan yang sampai saat ini terus berkembang.
Pembelajaran adalah sebuah proses dimana manusia melihat sekitarnya, melihat kedalam dirinya, medapatkan pemahaman atasnya dan menjadi dasar setiap aktifitas yang berikut akan dikerjakannya.
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berkelanjutan, pembelajaran yang selalu bersiklus, yakni pembelajaran yang selalu dimulai dari setiap akhir pemahaman yang diperolehnya. Sehingga pemahaman yang didapatkan oleh setiap individu akan berbeda satu sama lainnya. Dan hal ini adalah wajar karena ilmu (yang sedikit Allah berikan kepada masing-masing kita) sungguh melimpah.

Jalan Pintas Pembelajaran
Membaca pemahaman seseorang berikut konklusi dan analisisnya adalah salah satu cara mendapatkan pemahaman melalui jalan pintas. Proses yang pemilahan terhadap suatu fenomena akan menjadi lebih mudah dengan melihat bagaimana seseorang menyelesaikan masalah, bagaimana seseorang memiliki sebuah kerangka pemecahan masalah yang dinamis, bagaimana seseorang memandang sebuah permasalahan dan menyimpulkan faedah yang didapatkannya.
Membaca pemahaman seseorang dapat dilakukan dengan berbagai cara, dimulai dari melihat tindakan, membaca biografi, membaca buku, hingga pada tahapan interaksi frontal dengan individu tertentu.
Semakin banyak sang individu melakukan jalan pintas dalam Pembelajaran semakin banyak pula pola pikir yang menumpuk dalam pikirannya, sehingga terkadang bila ia tidak berusaha mensinergikan dengan pola pikirnya sendiri, membuatnya lebih beralur, menjadi pemahaman yang berkelanjutan atau hanya memahami tanpa berusaha menyesuaikan dengan kondisi realita yang sedang dihadapinya. Hal ini yang menyebabkan “linglung”, proses yang sama dialami oleh Freud (Bapak Psikologi) ketika mencoba menganalisis dirinya dengan berbagai kepribadian.

Pembelajaran dan Pendidikan
Pendidikan adalah suatu upaya sistematis dalam mendistribusikan ilmu pengetahuan. Bila pembelajaran adalah suatu upaya untuk memperoleh ilmu pengetahuan, maka pendidikan adalah suatu alur untuk menciptakan pembelajaran.
Sehingga pendidikan selalu mempunyai tujuan dan arahan. Sering kali kita melihat bahawa arahan pendidikan sering kali mengenai sesuatu yang abstrak seperti kualitas, kompeten, dan lain sebagainya. Dalam realita patut kita mensederhanakan konsep teoritis tersebut atau memberi penjelasan lanjutan seperti, berkualitas dalam kelimuan tertentu, berkualitas dalam aspek tertentu, sehingga hal tersebut bisa lebih mudah diaplikasikan untuk menopang pembangunan masyarakat, yang agraris, yang hi-tec, atau yang lain sebagainya.

Pengembangan Pola Pikir
Pada dasarnya pengembangan pola pikir adalah hasil reaktif dari adanya pembelajaran yang berkelanjutan, sistem pendidikan yang terarah dan pemahaman sang individu yang mendalam akan nilai-nilai yang essensial dalam kehidupan, yang menyangkut nilai-nilai humanity yang universal.
Pengembangan pola pikir adalah suatu hal yang mahal yang dapat disuguhkan oleh pembelajaran berkelanjutan dan pendidikan yang terarah. Pengembangan pola pikir bukanlah suatu hal yang bisa dituntut dari seorang individu, karena hal tersebut berasal dari hasil reaktif terhadap kegiatan pembelajaran berkelanjutan dan pendidikan yang terarah. Yang berarti bagaimana pembelajaran berkelanjutan dan pendidikan yang terarah dapat disinkronkan dalam aspek-aspek tertentu, sehingga tidak keseluruhan sistem pendidikan dimonopoli untuk kebutuhan sang pendididik, atau negara yang mensistematisasi pendidikan, ambillah sebagian kecil dari pendidikan untuk kepentingan masyarakat, negara dan bangsa dan berikan sebagian besarnya untuk menopang pembelajaran berkelanjutan sang individu.
F. Pengembangan Pola Pikir (Kognitif)
Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang padanannya Knowing,  berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, Cognition (kognisi) ialah perolehan,  penataan dan penggunaan pengetahuan  (Neisser, 1976). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif  menjadi popular sebagai suatu domain atau wilayah ranah psikologis manusia  yang meliputi wilayah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berhubungan dengan otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian degan ranah rasa (Chaplin, 1972).
Sebagian besar psikolog terutama kognitivis (ahli psikolog kognitif) berkeyakinan bahwa  proses perkembangan manusia dimulai sejak ia baru lahir. Bekal dan modal dasar perkembangan manusia, yakni kapasitas motor dan kapasitas sensori, ternyata pada batas tertentu, juga  dipengaruhi oleh ranah kognitif, campur tangan sel-sel otak terhadap perkembangan bayi baru dimulai sejak ia berusia 5 bulan saat kemampuan sensorinya (seperti melihat dan mendengar) benar-benar mulai tampak.
Keberhasilan Pengembangan ranah kognitif tidak hanya mengembangkan kecakapan  kognitif, tetapi juga menggembangkan ranah afektif, sebagai contoh, seorang guru agama yang piawai mengembangkan kecakapan kognitif, akan berdampak positif terhadap ranah afektif para siswa. Dalam hal ini pemahaman yang mendalam terhadap arati penting materi pelajaran agama yang disajikan guru serta preferensi kognitif yang mementingkan aplikasi prinsip-prinsip akan meningkatkan kecakapan afektif para siswa. Peningkatan kecakapan afektif ini antara lain, berupa kesadaran beragama yang mantap.
Dampak positif lainnya  ialah dimilikinya sikap mental keagamaan yang lebih tegas dan lugas sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang telah ia fahami dan yakini secara mendalam. Sebagai contoh, apabila seorang siswa di ajak kawannya untuk tidak senonoh seperti melakukan seks bebas, meminum-minuman keras dan “pil setan”, ia akan serta merta  menolak bahkan berusaha mencegah perbuatan asusila itu dengan segenap daya dan upayanya.
Pengembangan ranah kognitif juga akan berdampak positif terhadap perkembangan ranah psikomotor. Kecakapan psikomotor ialah segala amal jasmaniah yang kongkret dan  mudah diamati baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka. Namun,  disamping kecakapan psikomotorik itu tidak terlepas  dari kecakapan kognitif ia juga banyak terikat oleh kecakapan afektif. Jadi, kecakapan psikomotor siswa merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya.
Banyak contoh yang membuktikan bahwa kecakapan  kognitif itu berpengaruh besar terhadap berkembangnya kecakapan psikomotor. Para siswa yang berprestasi  baik (dalam arti yang luas dan ideal) dalam bidang pelajaran agama misalnya sudah tentu akan lebih rajin beribadah shalat, puasa dan mengaji. Dia juga akan tidak segan-segan memberi pertolongan atau bantuan kepada orang yang memerlukan. Sebab, ia merasa memberi  bantuan  itu adalah kebajikan (afektif), sedangkan perasaan yang ber kaitan  dengan kebajikan tersebut berasal dari pemahaman   yang mendalam  terhadap materi pelajaran agama yang ia terima dari gurunya (kognitif).
Sebagai guru harus ahli di berbagai hal. Guru itu mempunyai banyak keahlian dari mulai menjadi fasilitator, mediator, orang tua, pemimpin dan lain-lainnya. Tujuan utama seorang guru mengharuskan dapat mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada siswa. Guru harus tahu apa yang harus diajarkan kepada siswa sesuai dengan perkembangan psikologis anak (siswa). Tak ketinggalan pula guru harus dapat memahami kondisi siswa saat ia akan mentransferkan ilmunya atau pelajaran. Disinilah terlihat peran guru yang sesungguhnya, guru sebagai “pelayan” siswa dalam mendapatkan kenikmatan belajar akan dapat teralisasi dan tentunya akan merealisasikan tujuan yang ingin dicapai.
Selain itu guru harus mengetahui proses perkembangan anak dengan mempelajari psikologi anak. Dengan mengetahui proses perkembangan peserta didik guru dapat mentransfer ilmunya dengan mengetahui perkembangan yang sedang dialami anak (peserta didik). Kedua hal tersebut saling keterkaitan yang sangat memiliki peran penting dalam proses belajar anak.
Maka guru wajib memiliki kompetensi dalam mengetahui perkembangan pola pikir anak. Perkembangan pola pikir sering pula disebut perekembangan kognitif anak. Berdasarkan para ahli perkembangan kognitif anak dapat dibagi menjadi empat tahapan.
1. Sensory motor. Tahapan ini terjadi pada anak yang baru lahir hingga usia dua tahun. Daya pikirnya cenderung berkutat pada belajar bagaimana menghasilkan apa yang dia mau dan belajar menimbulkan efek tanpa memahami apa yang diperbuatnya. Makanya, pada anak usia seperti ini menangis menjadi cara belajar andalannya. Ia menangis ketika pipis. Menangis ketika lapar. Menangis juga ketika ngantuk atau kepanasan. Ia hanya cenderung berpikir dengan rasa.
2. Properasional. Tahapan ini terjadi pada anak usia 2-7 tahun. Gaya berpikirnya sudah mulai berkembang. Ia sudah bisa meminta dan mengingat apa yang dimilikinya. Ia telah dapat belajar merasa mempunyai. Hal ini tampak ketika dia memiliki mainan sudah hafal nama, warna, dan bentuknya.
3. Konkret-operasional. Tahapan ini terjadi pada anak usia 7 sampai 11 tahun. Gaya berpikirnya makin berkembang dan mulai kreatif. Ia sudah mengenal dan mengetahui bahwa benda padat tidak dapat berubah jenis. Misalnya kelereng yang dimilikinya sudah diyakini bentuknya bulat dan tak akan pernah berubah lagi. Bukti pada tahapan ini mulai kreatif. Misal, anak sudah dapat menggambar yang ada di depannya atau situasi yang pernah dialaminya.
4. Formal-operasional. Tahapan ini terjadi pada anak usia 11 hingga 15 tahun. Pola pikir anak pada usia ini, anak telah dapat berpikir analisis. Ia sudah mengenal malu, sudah ada rasa tertarik pada lawan jenis. Bahkan adapula yang sudah berpikir kritis. Dan inilah yang menyebabkan mereka sudah disebut awal memasuki masa remaja.
Dengan mengetahui perkembangan kognitif anak. Guru akan lebih mendapat kemudahan dalam pola belajar yang akan dikembangkan di kelas nantinya. Pola belajar tersebut dapat berupa teori-teori belajar seperti teori belajar behavioralisme, teori belajar kognitivisme, teori belajar humanistik, teori belajar kontruktivisme, dan teori belajar kontruktivisme sosial.
Antara perkembangan kognitif anak saling keterkaitan dalam teori belajar yang akan dikembangkan oleh guru. Maka guru wajib memiliki kedua kompetensi tersebut.
Pembinaan pola pikir, yakni pembinaan kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam sebagai penjabaran dari pada sifat Fathonah Rasulullah. Seseorang yang memiliki sifat fathonah tidak saja disebut cerdas tapi memiliki kebijaksanaan dalam berfikir dan bertindak. Mereka mampu belajar dan menangkap peristiwa yang terjadi disekitarnya, kemudian menjadikannya sebagai pengalaman dan pelajaran yang berharga serta memperkaya khazanah pengetahuan.
Berkenaan dengan pengembangan pola pikir, Kenneth dalam Rosyada, (2004:140) mengurut indikator-indikator kecakapan pada aspek kognitif dengan level kecakapan:
1) mengetahui dan mengingat;
2) pemahaman;
3) penerapan;
4) kemampuan menguraikan;
5) unifikasi;
6) menilai.
Pengaturan kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri; orang yang mempunyai kemahiran ini, mampu mengontrol dan menyalurkan aktivitas kognitif yang berlangsung dalam dirinya sendiri. Sasaran dari belajar pengaturan kegiatan kognitif adalah sistematisasi arus pikiran sendiri dan sistematisasi proses belajar dalam diri sendiri. Dalam psikologi modern sistematisasi dan pengaturan kegiatan mental yang kognitif ini dipandang sebagai suatu proses kontrol.
Tujuan-tujuan pembelajaran kerap mengandung sasaran supaya siswa belajar berpikir. Sasaran ini secara teoritis dibenarkan, tapi persoalannya bagaimana cara mengelola pengajaran kearah itu?. Berikut beberapa pemasukan bagi guru dalam mengembangkan kecakapan belajar berdasarkan fase belajar yang telah dikemukakan oleh Gagne (1988).
1. Guru membuat perhatian siswa terpusat pada tugas belajar yang dihadapi. Hal-hal tersebut dapat diusahakan melalui penjelasan kegunaan materi bahasan, dengan memberikan contoh tentang tujuan yang akan dicapai sehingga siswa mau belajar dan berminat.
2. Guru mengarahkan perhatian siswa kepada unsur-unsur pokok dalam materi pelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan menunjukkan kejadian tertentu dalam suatu demonstrasi, dengan menunjukkan bagian dari buku pelajaran misalnya, menguraikan pendahuluan dan sebagainya.
3. Peran guru dalam hal ini adalah membantu siswa untuk mencerna materi pelajaran dan menuangkannya ke dalam bentuk suatu rumusan verbal, skema atau bagan, dan guru memberikan petunjuk bagaimana mengambil inti atau membuat skema atau merumuskan konsep dan kaidah. Bila perlu guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terarah guna membantu siswa menggali informasi yang telah tersimpan dalam memori.
4. Guru harus dengan segera memberikan umpan balik terhadap prestasi yang ditunjukkan siswa.
Seorang yang memiliki kemampuan kognitif yang baik, tidak hanya menguasai bidangnya, tetapi memiliki dimensi ruhani yang kuat. Keputusan-keputusannya menunjukkan warna kemahiran seorang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur.
2. Perkembangan Keberagamaan Manusia
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan lemah baik secara pisik maupun psikis,  namun memiliki potensi-potensi yang sebagian bersifat terbuka  dan mudah diamati dan sebagian lainnya bersifat latent (tersembunyi). Potensi yang bersikap terbuka misalnya indera pendengaran dan penglihatan, sedangkan yang bersifat tersembunyi misalnya akal dan perasaan.
          Banyak ahli yang percaya bahwa potensi tersembunyi manusia itu terdapat  kecendrungan untuk  meyakini sesuatu yang serba unggul diluar diri dan lingkungannya. Kecendrungan ini dalam agama Islam disebut fitrah yaitu kecendrungan  menjadi muslim yang mengakui ketuhanan Allah. Namun apabila  orang tua dan lingkungannya tidak mendidik anak (baik langsung maupun tidak) untuk menjadi seorang muslim, maka boleh jadi anak tersebut menjadi pemeluk agama lain atau mempertuhankan benda-benda tertentu.
            Secara teoritis-psikologis, sebagian ahli percaya bahwa setiap anak yang dilahirkan  kedunia ini memiliki kebutuhan-kebutuhan  yang mencakup: 1) kebutuhan perlindungan/keamanan (security); 2) kebutuhan memperoleh pengalaman baru (new  experience); 3) kebutuhan memperoleh tanggapan (respon); dan  4) kebutuhan pengakuan (recognition). Aneka ragam kebutuhan ini mencerminkan kebergantungan, yang pada gilirannya, melalui interaksi dengan lingkungan keluarga dengan masyarakat, menimbulkan perasaan keberagamaan.
3. Perkembangan Moral Dan Sosial Manusia
perkembangan sosial dan moral manusia  juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekwensinya, kualitas hasil  perkembangan sosial sangat bergantung kepada kualitas proses belajar (khususnya belajar social) baik dilingkungan  sekolah dan keluarga maupun dilingkungan yang lebih luas. Ini   bermakna bahwa proses belajar siswa dalam bersikap dan berprilaku social yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat siswa yang bersangkutan. Dalam dunia psikologi belajar, terdapat aneka ragam mazhab (aliran pemikiran) yang berhubungan dengan perkembangan  sosial. Diantara ragam mazhab, perkembangan social ini yang paling menonjol dan dapat dijadikan rujukan ialah, 10 aliran teori cognitive psychology dengan tokoh utama Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg; 20 aliran teori sosial Learning dengan tokoh utama Albert Bandura dan R.H.Walters. tokoh-tokoh psikologi tersebut  telah banyak melakukan penelitian dan pengkajian perkembangan social anak-anak usia sekolah dasar dan menengah  dengan penekanan khusus pada perkembangan moralitas mereka. Maksudnya,  setiap tahapan perkembangan sosial anak selalu  dihubungkan dengan perkembangan prilaku moral, yakni perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Perkembangan Sosial dan Moral Versi  Piaget dan Kohlberg
Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan  sama dengan perkembangan moral, sebab prilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial.  Seorang siswa hanya akan  hanya akan mampu berprilaku sosial dalam situasi sosial  tertentu  secara memadai apabila menguasai pemikiran  norma prilaku moral yang diperlukan dalam situasi sosial tersebut
 Piaget dan Kohlberg menekankan bahwa pemikiran moral seorang anak, terutama ditentukan oleh kematangan kapasitas kognitifnya. Sementara itu,lingkungan sosial merupakan pemasok materi mentah yang akan di diolah oleh ranah kognitif anak tersebut secara aktif. Dalam interaksi sosial dengan teman-teman sepermainan sebagai contoh, terdapat dorongan sosial  menantang anak tersebut untuk mengubah orientasi moralnya.
            Pada tahap  perkembangan kognitif yang memungkinkan sikap   sikap dan egosentrisme  seorang anak berkurang, lazimnya perkembangan moral (moral reasoning) anak tersebut menjadi lebih matang. Sebaliknya, anak-anak  yang masih diliputi  sikap mementingkan diri sendiri hanya akan mampu memahami kaidah social yang hanya akan menguntungkan diri sendiri. Oleh karenanya, agar anak-anak yang egois menyadari kesalahan sosialnya dan sekaligus berprilaku moral secara memadai, pengenalan mereka terhadap wewenang orang dewasa dan penerimaan mereka terhadap aturannya perlu ditanamkan.           
Ada dua macam metode yang diaplikasikan piaget  untuk melakukan studi mengenai perkembangan moral anak dan remaja, yaitu:
1. Melakukan observasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng dan menanyai mereka tentang aturan yang mereka ikuti.
2. Melakukan tes dengan menggunakan beberapa kisahyang menceritakan perbuatan salah dan benar yang dilakukan anak-anak, lalu meminta responden (yang terdiri dari anak dan remaja) untuk menilai kisah-kisah tersebut berdasarkan pertimbangan mereka sendiri.
Berdasarkan data studinya diatas, Piaget menggunakan dua tahap perkembangan moral anak. dan remaja diantara tahap pertama dan kedua diselingi dengan masa transisi, yakni pada usia 7-10 tahun.

KESIMPULAN

A.    Perkembangan
Perkembangan  adalah proses suatu tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991),”Perkembangan” adalah perihal berkembang. Berkembang berarti mekar terbuka atau mebentang; menjadi besar, lua, banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya.
Dalam Kamus Psikologi antara lain the Penguin Dictionary Of Psikology (1998), Perkembangan  pada prinsipnya adalah tahapan-tahapan yang progesif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainya, tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam organisme-organisme tersebut.
Selanjutnya, secara lebih luas pengertian perkembangan manusia itu antara lain:
1.
      The Progresive and Continuous Change In The Organism From Birth To Death, Perkembangan itu merupakan perubahan yang perogresif dan terus menerus dalam diri organism sejak lahir hingga mati.
2.       Growt, Perkembangan itu berarti pertumbuhan.
3.      Change In The Shape And Integration Of Bodily Parts Into Functional Parts, Perubahan dalam bentuk dan penyatuan bagian-bagian yang fungsional.
Berdasarkan pengertian perkembangan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa perkembangan adalah peningkatan kuantitas dan kualitas aspek-aspek psiko-fisik manusia sejak lahir sampai mati.
B.     Pertumbuhan
Pertumbuhan berarti perubahan kuantitatif yang mengacuh pada jumlah, besar, dan luas yang bersifat konkrit. Dengan kata lain, pertumbuhan berarti kenaikan dan penambahan ukuran yang berangsur-angsur seperti yang menjdi besar dan tegap, juga kaki dan tangan yang semakin panjang.
Selanjutnya, berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan akan berlanjut terus hingga manuia mengakhiri hidupnya, sedangkan pertumbuhan hanya terjadi sampai manusia mencapai kematangan manusia mencapai kematangan fisik ( maturation ).
Namun demikian untuk membedakan makna pertumbuhan dan perkembangan secara hitam putih tidak dapat diterima sepenuhnya. Alasanya, ada sejumlah bukti perubahan yang bersifat jasmaniah yang terus berlangsung hingga akhir hayat  seperti rambit dan kuku. Rambut dan kuku yang sacara periodik kita potong itu akan tumbuh dan tumbuh lagi walaupun usia kita sudah melebihi usia kematangan.

Referensi

Arifianto, Abdullah. 2006. Pendidikan dan Pengembangan Pola Pikir. Malang: www.google.com
Zahidi, Syukron. 2010. Perkembangan Kognitif Anak Wajib dimiliki oleh Guru. www.kompasiana.com
 

Iman dan Taqwa Dalam Perspektif Filsafat


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Iman dan Taqwa adalah dua unsur agamis yang esensiil dari suatu agama dan tidak mungkin terlepas dari pembahasan filsafat, khususnya filsafat agama yaitu membahas masalah agama dari segi filsafat.
Filsafat agama dalam pandangan berbagai filosof bukanlah pembahasan filsafat secara bebas, tetapi ia membahas agama dari segi aspek filsafat dengan titik tolak yang tertentu. Karena agama itu bermacam-macam pedoman dan landasannya, maka sudah barang tentu landasan yang dipergunakan sebagai titik tolak pembahasan makalah ini adalah ajaran Islam.
Landasan berfilsafat adalah akal bukan wahyu, oleh karena itu dalam sejarah filsafat terdapat filosof yang beriman dan ada pula filosof yang kufur yang hanya percaya pada pengetahuan indra yang didukung oleh akal, terutama filosof yang beraliran meterialistisme.
Sebenarnya antara berfikir filosofis dan berfikir religius mempunyai titik mulai yang sama, keduanya mulai dengan percaya. Dalam filsafat dimulai dengan percaya pada kemampuan akal, sedangkan dalam agama dimulai dengan percaya pada ketetapan wahyu. Menurut agama Islam, Iman diartikan secara sederhana adalah kepercayaan, sedangkan dalam filsafat agama, Iman tersebut dipahami secara radikal.
Plato sering menyebut Tuhan dengan kata (The Good), yaitu Tuhan yang baik, tetapi dia tidak pernah menyebut Tuhan yang hidup (The Live). Bagi Aristoteles, bahwa kepercayaan terhadap adanya Tuhan adalah kepecayaan kepada adanya zat yang memberi arti kepada alam, tetapi Tuhan yang tidak dapat kita hubungi, artinya bukan Tuhan yang dapat kita sembah dan kita mintai. Tuhan menurut Aristoteles merupakan it bukan he. Tuhan menurut kepercayaan agama greek adalah Tuhan yang dianggap mempunyai hubungan dengan masalah kerohanian atau suatu kekuatan dalam dunia spiritual. Kita sedikit agak setuju Tuhan seperti yang dikemukakan Pascal, yaitu Tuhannya Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya`qub, sebab Tuhan ditambah predikat Nabi-Nabi yang diakui oleh agama Islam, sekalipun sifat-sifat Tuhan tidak disebutkan. Tuhan yang dibahas dalam tulisan ini adalah Tuhan yang diberi predikat 99 asma`ul husna.
Iman dan taqwa dalam judul diatas bukan merupakan kesatuan yang utuh, akan tetapi antara keduanya merupakan dua pengetahuan yang mempunyai hubungan yang erat sekali. Tinggi rendahnya nilai keimanan berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya nilai ketaqwaan. Sedangkan tinggi rendahnya nilai ketaqwaan sebagai bukti nilai kebenaran nilai Iman yang dimiliki. Oleh karena itu makalah ini perlu sekali terlebih dahulu membahas pengertian iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya.
Setiap lubuk hati manusia tidak boleh kosong dari potensi kepercayaan. Usaha filosof untuk menjelaskan seluruh kenyataan secara tuntas ternyata masih ada sesuatu sisa yang tidak dapat dijelaskan yang berperan besar terhadap kehidupan manusia. Sisa ini oleh Herbert Spencer diberi istilah The great of imknowable yang harus diterima dengan sikap percaya atau tidak percaya. Bahkan dalam kehidupan manusia sering dihadapkan dengan sesuatu misteri yang tersembunyi dibalik gejala-gejala, bahwa dibalik segala sesuatu yang terpaksa harus dipercaya. Hal ini mendorong untuk dibahas secara radikal oleh berbagai filosof yang tekun dengan filsafatnya. Oleh karena itu dari sisi ini perlu dibahas tentang peran iman dalam meningkatkan amal ketaqwaan.
Dalam agama Islam, iman mempunyai peran dan pengaruh yang besar terhadap penghidupan manusia di alam semesta ini, baik dalam segi hubungannya dengan  Tuhan dan dan sesama manusia maupun hubungannya dengan alam fisika dan metafisika. Wilian James seorang filosof kelahiran New York dengan teori dogmatisnya telah membahas masalah-masalah agama, khususnya tentang iman kepada Allah. James tidak mempersoalkan tentang kebenaran kepercayaan-kepercayaan dalam agama, tetapi yang dipersoalkan adalah hasil menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Baginya kalau kepercayaan atau ide-ide agama itu memperkaya hidup maka itu adalah benar. Kalau ada anggapan yang dapat menjadi dasar suatu hidup yang baik, maka sebaiknya percaya terhadap  anggapan itu. Kalau harus memilih antara anggapan yang berbeda maka harus berfikir dari titik akhir. Perspektif tentang manusia dan dunia dengan Allah menggambarkan masa depan yang lebih baik dan sesuai dengan keinginan kita dari pada perspektif tanpa Allah. Perspektif pertama lebih berguna, maka lebih benar. Dari sisi ini maka perlu dibahas pengaruh iman terhadap kehidupan manusia.

1.2   Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimanakah iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya?
1.2.2        Bagaimanakah peranan iman dalam membentuk ketaqwaan?
1.2.3        Bagaimanakah pengaruh kekuatan iman terhadap kehidupan individu dan masyarakat?

1.3   Rumusan Tujuan
1.3.1        Menjelaskan iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya
1.3.2        Menjelaskan peranan iman dalam membentuk ketaqwaan
1.3.3        Menjelaskan pengaruh kekuatan iman terhadap kehidupan individu dan masyarakat



1.4  Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
                           Kita dapat mengetahui dengan lebih mendalam segala hal yang berkaitan dengan Iman dan Taqwa Dalam Perspektif Islam.
1.4.2        Manfaat Praktis
                                    Dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya
Iman dan taqwa adalah dua unsur pokok bagi pemeluk agama. Keduanya merupakan elemen yang penting dalam kehidupan makhluk manusia dan sangat erat hubungannya dalam menentukan nasib hidupnya serta memiliki fungsi yang urgen.
Menurut ahli hukum, iman itu hanya sekedar pengakuan suatu makna yang terkandung dalam lubuk hati, menurut para teolog, iman itu adalah kepercayaan yang tertanam dalam lubuk hati dengan keyakinan yang kuat tanpa tercampuri oleh keraguan dan berperan terhadap pendangan hidup atau amal perbuatan sehari-hari. Sedangkan menurut berbagai filosof, iman diartikan lebih jauh dari lafidz dan makna serta tidak terikat dengan dalil-dalil apologis. Misalnya Karl Teodor Yoeper seorang filosof Jerman mengetengahkan istilah iman falsafi yang universil yang berlaku untuk semua zaman dan kebudayaan. Isi iman falsafi baginya, bahwa Allah itu ada, manusia harus mampu memilih yang baik secara tak bersarat, dunia tidak merupakan kenyataan terakhir dan bahwa cinta kasih manusia merupakan suatu bukti adanya Allah. Semua pengertian-pengertian yang dikemukakan diatas pada dasarnya menunjukkan, bahwa iman itu berperanan dan berpengaruh terhadap tingkah laku manusia dalam segala aspek kahidupan manusia.
Menurut filosof Islam Imam Ghozali bahwa iman itu berkaitan dengan  hal-hal yang bersifat spiritual atau batin, di mana hati dapat menangkap iman dalam pengertian hakiki melalui kasyaf yang diperoleh berkat pancaran sinar Ilahi padanya. Dalam kesempatan lain beliau menegaskan, bahwa arti iman adalah pengakuan yang kuat tidak ada pembuat (faa`il) selain Allah. Makna iman yang dikemukakan ini menimbulkan problema metafisis, diantaranya membatasi sebab pembuat (illah faa`iliyah) hanya kepada Allah, menafikan kebebasan berikhtiar dari manusia serta penyerahan diri (tawakkal) kepada-Nya. Pemikiran Imam Ghozali ini disebut dengan istilah tauhid, sebab artinya keimanan itu tidak boleh menghubungkan sebab tersebut kepada selain Allah. Dialah pembuat satu-satunya dan selain-Nya hanya sekedar washilah (perantara). Hukumnya perantara itu dalam tinjauan filsafat juga sebab, namun sebab pokok.
Bagi Imam Ghozali iman itu bukan lawan dari syirik, tetapi peng-Esaan kepada Kholiq (Pencipta). Oleh karena itu, bagi orang yang meng-Esakan Allah harus bersikap tawakkal. Tawakkal bukan berarti maniadakan ikhtiar, tetapi maniadakan kebebasan berikhtiar, karena dalam tawakkal manusia berkesempatan untuk kasab (berusaha). Bahkan dengan tawakkal itu dapat mengenal hakekat ikhtiar dan sekaligus dapat mengetahui nilai dan kualitas iman. Iman yang sebenarnya harus membuahkan tawakkal, sehingga dapat memperoleh ridho Allah. Dalam kitab suci dikemukakan, bahwa Nabi Hud, Nabi Musa dan yang lainya telah menjadikan tawakkal sebagai benteng kekuatan bertaqwa dalam menghadapi kaumnya. Ini semua menunjukkan, bahwa antara iman dan taqwa saling berpengaruh dalam membentuk manusia berkepribadian luhur.
Iman menurut pemikiran Imam Ghozali diatas mengandung implikasi yang sangat luas. Diantaranya sekaligus sebagai garis pemisah terhadap pandangan orang yang mengingkari wujud dibalik materi, menolak dengan tegas faham polotisme, atheisme, animisme, dan lainnya. Penafsiran sebab tauhid sebagaimana yang telah diterangkan oleh Imam Ghozali tidak dapat disamakan dengan penafsiran sebab yang dengan dikemukakan oleh Aristoteles, sebab Aristoteles tidak bermaksud dengan konsepnya itu menafikan sebab material. Gerak alam ini dipandang olehnya sebagai gerak tujuan (illah ghoyah) yaitu Tuhan adalah tujuan yang menjadi arah gerak alam, sedangkan Imam Ghozali menafsirkan Allah penggerak satu-satunya. Dialah pencipta segala sesuatu, pencipta absolut sebagaimana ditegaskan  oleh wahyu-Nya.
Pada umumnya pada filosof yang tidak mengenal ide-ide agama, maka dalam filsafat ketuhanan perlu berpendirian, bahwa permulaan alam hanya sebagai pengatur dan penyusun materia in prima (materi pertama) sebagai Tuhan sendiri. Pengertian pengatur dan penyusun lebih menunjukkan keterampilan daripada pencipta. Pendirian mereka menjadikan wujud keseluruhannya tersusun dari sebab akibat. Tuhan dan materi tunduk di bawah hukum kemestian (nesessity).
Jadi kenyataan isi dari iman antara filosof murni dengan filosof yang mengakui ide-ide agama, khususnya Islam jauh berbeda, sehingga konsekuensinya dalam pembentukan kepribadian luhur dan pola pikir dalam mengarungi kehidupan ditengah-tengah masyarakat akan terjadi perbedaan juga. Disini tampak dengan jelas, bahwa sila pertama dari Pancasila sebagai asas tunggal bermasyarakat dan bernegara tidak sama dengan kepercayaan para filosof yang tidak mengenal agama dalam mempercayai keberadaan Tuhan. Tuhan dalam Pancasila adalah Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta, Penagsih, Penyayang, dan sebagainya seperti dijelaskan oleh ajaran agama khususnya ajaran Islam. Pemikiran ketuhanan yang terkandung dalam Pancasila ternyata berpengaruh besar dalam merumuskan Tujuan Pendidikan Nasional, Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila dan aturan-aturan yang lain di Negara kita yang hampir kesemuanya mengandung norma-norma luhur.
Filosof-filosof Islam, baik Mu`tazilah maupun Ahli Sunnah berpendapat bahwa hukum beriman kepada Allah adalah wajib karena iman itu dapat diharapkan terbentuk masyarakat yang bertaqwa. Mereka berselisih tentang dasar terjadinya kewajiban itu dari agama, sebab akal tidak mengenal hukum wajib. Akal hanya mengenal tepat dan tidak tepat, sesuai dan tidak sesuai, benar dan salah. Abu Mansur Maturidi dan pemikir Ahli Sunnah memberikan penyelesaian kontradiksi tersebut dengan penegasannya bahwa dasar kewajiban beriman itu dari agama dan dapat difahami kebenarannya oleh akal.
Taqwa itu pada prinsipnya adalah amal batin atau lahir, baik yang bersifat mengikuti perintah Tuhan maupun amal yang berbentuk menjauhi larangan Tuhan. Yang menjadi problema apakah unsur amal itu menjadi syarat iman, dengan pengertian, bahwa apakah tanpa amal seseorang tidak dianggap beriman.
Mayoritas ahli pikir Mu`tazilah dan Khowarij berpendirian, bahwa amal adalah rukun iman. Iman seseorang tidak dapat diterima tanpa amal. Tetapi menurut ahli pikir Ahli Sunnah, bahwa amal bukan sebagian rukun iman dengan alasan, bahwa apabila amal termasuk rukun iman berarti Iman dan Islam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah, sedangkan berdasar penjelasan Hadist antara keduanya berlainan, dimana Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang apa rukun Iman dan rukun Islam. Masing-masing dijawab dengan jawaban yang berbeda. Bagi ahli pikir Ahli Sunnah kalimat “Alladzina Amanu” memang selalu diikuti kalimat “wa amilush sholihat” ini menurut analisa bahasa bahkan menunjukkan perbedaan. Artinya iman itu bukan amal dan amal itu bukan iman. Hal ini sama dengan kalau orang yang makan telah pergi. Ini menunjukkan, bahwa berkata itu bukan makan dan makan itu bukan berkata. Tetapi ahli pikir Ahli Sunnah mengakui bahwa antara keduanya mempunyai pengaruh yang erat sekali. Apabila antara dua pendapat tersebut diatas dikomparasikan maka pendapat ahli pikir Ahli Sunnah lebih kuat argumentasinya. Sebab manakala amal itu termasuk rukun  iman dan iman tidak diterima tanpa amal sholeh, maka alangkah sedikitnya orang-orang yang masuk surga. Dalam pada itu dikemukakan oleh suatu hadits, bahwa “akan keluar dari neraka siapa saja yang didalam lubuk hatinya terdapat sedikit dari iman”. Hadits ini menunjukkan orang yang beriman tanpa amal bagaimanapun akan masuk surga sekalipun sangat lama sekali merasakan neraka.

2.2   Peranan Iman dalam membentuk amal ketaqwaan
Peranan iman tidak dapat terhitung jumlahnya. Yang tidak diketahui lebih banyak dari pada yang diketahui. Bahkan peranannya dalam dunia metafisika sedikit sekali yang dapat dijelasakan.
Iman adalah sesuatu yang tersembunyi dalam jiwa (Ma waqaro fil qalbi). Berdasarkan eksperimen sebagian besar ahli jiwa berkesimpulan, bahwa iman kepada Allah termasuk obat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit jiwa atau menghilangkan gangguan jiwa. Kesimpulan ini diperkuat oleh filosof-silosof besar diantaranya Francis Bacon, William James, Kierkegoor dan lain-lain.
Menurut filosof Islam Jamaluddin Alafghoni, bahwa iman kepada Allah menumbuhkan keteguhan pendirian dalam menghadapi kesulitan dan bahaya, bahkan mampu untuk membentuk kerelaan dan meninggalkan kemewahan hidup, manakala ada seruan untuk bejuang dijalan Allah. Keteguhan pendirian tersebut menjadikan kekuatan yang sangat teguh walaupun bahtera kehidupannya terombang ambing oleh ombak dari segala penjuru. Kekuatan tersebut sekalipun merupakan pendirian setiap individu, namun menjadi kekuatan masyarakat dan bangsa. Pemikiran Jamaluddin ini sejalan dengan kepercayaan filosof Plato, bahwa suatu bangsa tidak dapat menjadi kuat, kecuali bila ia percaya kepada Tuhan, sekedar kekuatan alam atau sebab pertama yang tidak berupa person, jarang sekali dapat berhasil mengilhamkan harapan, pengabdian atau pengorbanan. Akan tetapi Tuhan yang hidup dapat berbuat semua ini. Kedua pemikiran tersebut menunjukkan, bahwa peranan iman adalah menumbuhkan kekuatan pendirian.
Telah disepakati oleh semua ilmuan, bahwa manusia adalah makhluk sosial tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan kerjasama anggota masyarakat. Kerjasama tidak akan langgeng tanpa adanya aturan atau hukum atau undang-undang yang mengatur hubungan untuk mematuhi hak dan kewajiban masing-masing anggota masyarakat. Untuk merealisasinya sangat membutuhkan pendukung atau kekuatan. Kekuatan pemerintah hanya dapat mencegah pelanggaran yang nyata dan dapat dibuktikan. Sedangkan para hakim yang berstatus penegak hukum sering dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka untuk menghadapi kejahatan atau kekejaman yang terselubung membutuhkan kekuatan yang mampu mengendalikan nilai hukum dan norma-norma luhur. Hampir semua ahli-ahli agama mengakui, bahwa iman dan taqwa berperan sebagai kekuatan pengeandali hawa nafsu untuk menegakkan  norma dan nilai tersebut.
Orang yang beriman kepada Allah mempunyai rasa atau kesadaran tentang kelemahan dan kekurangannya. Kelemahan dan kekurangannya ini dapat menimbulkan sifat menyerah kepada Allah yang diimani. Hal ini Islam mengakui berdasarkan wahyunya, menurut Th. Steinbuchel, bahwa dalam kepercayaan kepada Tuhan, manusia mempunyai rasa hormat dan menyerah dengan percaya. Dalam Islam pengaruh iman diantaranya rasa tawakkal (Ali Imron: 160). Tawakkal dalam tinjauan tasawuf ini harus seiring dengan kesabaran. Keberhasilan manusia tidak mungkin sepenuhnya dari usaha sendiri. Sedangkan kecil dan tidaknya ditentukan oleh berbagai faktor diluar kemampuannya. Faktor-faktor itu adalah sebab keberhasilan. Banyak akibat yang sebabnya bermacam-macam dan sebaliknya, banyak sebab yang akibatnya bermacam-macam. Banyak akibat yang sulit diketahui sebabnya dan banyak sebab yang sulit diketahui akibatnya. Dalam situasi diatas sikap tawakkal sangat diperlukan. Iman yang kuat mempunyai peran untuk menimbulkan tawakkal. Dari sini manusia akan mengetahui hakekat usahanya.
Orang beriman mempunyai tekat untuk berbuat baik. Kalau kita pinjam istilah filosof dari Max Scheler ialah Wollen de Tuns (Niat untuk berbuat). Kalau kita menukil istilah wahyu adalah `azam atau iradatun jaazimatun (kehendak yang sudah pasti). Oleh Max Scheler dinyatakan, bahwa kesiapan yang fundamental ini disebut tekad, sebab di dalamnya terdapat keberanian dan tanggung jawab. Memang menegakkan norma yang luhur itu membutuhkan keberanian. Menurut ajaran wahyu disebut tekat menegakkan yang haq itu bukan didorong oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi dan golongan, akan tetapi didorong oleh pikiran yang suci yang tumbuh berkat kekuatan iman. Karena itu mereka tidak takut menghadapi penegak-penegak kebathilan, karena yakin, bahwa pelindungnya adalah Allah.
Manusia menurut pandangan Max Scheler memiliki tiga suasana (sphare), yaitu suasana keindraan, suasana vital dan suasana rohani. Dengan tiga suasana ini maka dapat dibedakan tiga macam peranan (gepuhle). Perasaan keindraan adalah rasa seperti enak, pahit dan semacamnya. Rasa vital ada dua cabang yaitu, rasa kehidupan jasmani (lebengepuhle) seperti lelah dan segar bugar, dan rasa kejiwaan (seeliche-gepuhle) seperti apabila orang yang berkata bingung, aku sedih dan aku susah. Kemudian yang ketiga adalah rasa rohani, misalnya bahagia dan damai. Disini badan tidak tersangkut. Orang yang sedang sedang menderita tubuhnya bisa juga merasa bahagia. Diantara tiga nilai diatas nilai rohani lebih atas. Sedangkan Allah menurut Scheler sebagai Maha Nilai. Baginya menyerah kepada Allah tidak kehilangan nilai, melainkan bertambahnya nilainya.
Menurut ajaran wahyu orang mu`min yang sebenarnya ialah orang cinta tertingginya diarahkan kepada Allah. Bahkan menurut wahyu manusia diancam oleh Allah manakala cintanya kepada Allah tidak diatas segala macam cinta. Cinta yang tinggi ini menjadi dasar semua cinta kita. Manakala manusia beriman salah satu jenis kecintaannya gagal atau tidak terpenuhi, maka tidak akan merusak kebahagiaan hidup asal cinta tertingginya tetap bercokol. Uraian diatas dapat dirumuskan, bahwa iman yang kokoh berperan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan sekaligus berperan menumbuhkan kebahagiaan hidup.
Uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa peran iman, diantaranya menghilangkan  gangguan jiwa, menumbuhkan keteguahan pendirian, menumbuhkan kekuatan pengendali hawa nafsu, menumbuhkan tawakkal, menciptakan tekat berbuat baik dan berperan menciptakan rasa cinta dan bahagia.
Enam macam peranan tersebut hanya merupakan peranan yang asasi secara minim akan tumbuh pada orang-orang yang benar-benar beriman. Totalitas peranan tersebut secara integral dapat menumbuhkan  ketaqwaan dalam kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individual maupun koletif. Sedangkan gambaran rinci tentang proses peranan iman yang menumbuhkan ketaqwaan sebagai berikut, yaitu gambaran singkat sebagai perspektif filsafat agama terhadap iman dan taqwa.
Manusia adalah makhluk yang membutuhkan keselamatan, bukan untuk sekedar beberapa tahun, namun untuk selama-lamanya. Bukan keselamatan fisik berupa kesehatan saja, namun juga keselamatan rohani berupa ketenangan jiwa. Disini iman berperan untuk melenyapkan semua gangguan jiwa. Lebih dari pada itu ia juga membutuhkan keselamatan dalam arti yang tinggi. Keselamatan dalam artian ini menurut wahyu adalah kebahagiaan didunia dan di alam baka.dalam hal ini dibutuhkan peranan iman berupa menciptakan tekat berbuat baik bersama-sama peranan iman yang lain yang berfungsi secara integral. Keberhasilan keselamatan manusia tidak berkat usaha sendiri, namun masih tergantung dengan lainnya, karena realitasnya dia sebagai suatu titik yang kecil terletak dalam suatu kosmos yang maha besar dan tidak terhingga. Bahkan dalam kemerdekaannya dia masih terikat. Oleh karena itu dia membutuhkan dukungan sesamanya dan dukungan lingkungan. Tetapi ternyata tidak semuanya mendukung, bahkan menjadi penghambat dan perintang, karena masing-masing mempunyai keinginan dan kemampuan yang berbeda. Peranan iman berupa tumbuhnya keteguhan pendirian dan kekuatan pengendalian hawa nafsu mutlak dibutuhkan. Sudah barang tentu tidak semua keselamatan berhasil dengan memuaskan bahkan sering terjadi kegagalan. Dalam situasi ini tidak akan terjadi keputusasaan sebab sifat iman yang sebenarnya berperan menumbuhkan sifat tawakkal. Baik berhasil maupun gagal tetap bersyukur sebab iman yang sesungguhnya menumbuhkan rasa cinta dan bahagia dalam situasi apapun. Demikian gambaran proses integral peranan-peranan iman yang mampu menumbuhkan ketaqwaan yang didambakan oleh kejayaan bangsa dan negara.

2.3   Pengaruh kekuatan iman terhadap kehidupan individu dan masyarakat
Sebagaimana peranan iman yang jumlahnya sulit dihitung demikian juga pengaruhnya, di mana yang tidak diketahui lebih banyak. Lebih sulit lagi apabila dianalisis pengaruh iman terhadap hal-hal bersifat metafisik.
William James, seorang guru besar dalam ilmu filsafat di Harvard University berpendapat, bahwa pengaruh keimanan menumbuhkan keberanian, semangat, berpengharapan, menghilangkan perasaan takut serta keluh kesah, memberikan perbekalan hidup yang berupa cita-cita dan tujuan hidup, menimbulkan di hadapannya lapangan kebahagiaan dan alam subur di tengah-tengah gurun kehidupan.
Dr. Paul Erneet Adolf seorang guru besar pada Universitas Saint Jones dan anggota himpunan ahli bedah Amerika berpendapat bahwa ilmu kedokterran dan ilmu kepercayaaan kepada Allah SWT keduanya patut menjadi landasan untuk membangun filsafat modern.
Sebenarnya banyak sekali filosof-filosof dan cendekiawan yang mengakui adanya pengaruh positif dari iman, misalnya Max Scheler, filosof Jerman, Karl filosof Jerman, Karl ospers seorang filosof eksistensialisme, J. Kant filosof dari Rusia yang terkenal dengan teorinya kopernikan ke subyek dan filosof-filosof lain yang terkenal. Pemikiran para filosof dan cendekiawan tersebut pada umumnya tidak secara jelas diterangkan proses terjadinya pengaruh tersebut, sehingga sulit untuk diterima oleh ahli-ahli pikir lainnya.
Misalnya watak dasar manusia adalah egoisme. Watak inilah yang sering menimbulkan permusuhan, perampasan hak orang lain, penguasaan dan lain sebagainya. Namun iman yang mengandung ajaran sosial dan susila mampu menumbuhkan perdamaian dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan yang saling bermusuhan.
Dalam wahyu ditetapkan, bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan keduniaan tanpa suatu pedoman dan batas merupakan biang pokok timbulnya kerusakan masyarakat. Namun disamping itu keimanan mampu mengendalikan dan menolak kecenderungan itu, karena iman mengandung ajaran tentang batas diperbolehkannya mencintai keduniaan, yaitu selama tidak menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi kehidupan masyarakat.
Sejak dahulu kala sampai sekarang, khususnya dalam era globalisasi banyak sekali kegiatan-kegiatan negatif yang tejadi di suatu Negara. Pemerintah dengan undang-undangnya dan hukuman terpaksa mundur dan tidak mampu menyelesaikan kebiasaan negatif tersebut. Ternyata kekuatan iman yang memiliki pengaruh melumpuhkan kebiasaan yang tidak dapat dihadapi oleh kekuasaan dan kekuatan lahir.
Pengaruh kekuatan iman melahirkan akhlak dan moral yang luhur dalam kehidupan manusia, seperti jujur, adil dalam segala situasi, diucapkan kebenaran walaupun terasa sangat berat, ditegakkan kebenaran sekalipun berakibat merugikan dirinya dan keluarganya, bersikap adil terhadap lawan sebagaimana bersikap adil di tengah-tengah kawan, masih banyak lagi norma-norma luhur yang dicetuskan oleh kekuatan iman. Oleh karena sangat patut sekali apabila dinyatakan bahawa iman dan taqwa adalah kunci pengalaman nilai-nilai luhur.
Dengan kunci iman yang menentukan damai atau perang, aman atau kacau, hidup atau mati, tentram atau gelisah, mujur atau malang, kuat atau lemah, halal atau haram, dan sebagainya. Oleh karena itu kepercayaan tentang keesaan Tuhan tidak saja merupakan akibat dai terutusnya nabi Muhammad saw, tapi juga menjadi akibat pokok dan dasar terutusnya nabi-nabi semuanya.
Perubahan jiwa seseorang atau masyarakat merupakan suatu reformasi dalam pandang filsafat. Setiap pembangunan dan kebangkitan umat dalam situasi apapun harus sejalan dengan reformasi jiwa tersebut. Apabila tidak sejalan maka usaha pembangunan dan kebangkitan umat itu hanya berupa rencana atau program semata-mata.
 Reformasi jiwa bukanlah suatu hal yang ringan dilakukan, tetapi merupakan suatu hal yang berat dan sulit, sebab manusia merupakan makhluk yang dalam dirinya bertemu secara integral semua sifat-sifat, baik positif maupun negatif yang memerlukan media yang mampu sebagai mekanisme spiritual yang menormalisir sifat-sifat yang paradok itu. Oleh karena itu wajar perubahan jiwa manusia termasuk usaha yang sangat berat, membendung aliran air yang dahsyat dan mengubah arah alirannya, membuat terowongan tanah dibawah laut merupakan pekerjaan yang lebih ringan daripada usaha mengubah jiwa dan pandangan hidup.
Tetapi ternyata dalam pengalaman sejarah pengaruh kekuatan iman yang mampu menciptakan perubahan jiwa manusia dan menjadikan manusia dalam bentuk baru, sehingga berubah juga pandangan hidupnya di dua masa, yaitu masa di dalam keadaan kafir dan masa di dalam keaadaan beriman, maka jelaslah bahwa dalam masa kedua itu bukan lagi seperti dalam masa pertama, sekalipun nama dan bentuk tubuhnya berubah.
Kadang pengaruh iman terhadap seseorang terjadi secara drastis, tanpa memandang umur dan tingkat penghidupan. Sering pengaruh tersebut bertentangan dengan teori para psikolog, dimana mereka menetapkan teorinya, bahwa keberhasilan pendidikan terikat oleh masa-masa tertentu. Hal ini berbeda dengan pengaruh iman, apabila iman telah tertanam dalam jiwa seseorang, maka iman tersebut mampu mengubah jiwa dan pandangan hidup. Semuanya itu tidak terbatas pada masa-masa tertentu, baik masa remaja, dan masa dewasa maupun tua.
Pengaruh iman terhadap jiwa bukan suatu hal yang diragukan sebagaimana dapat disaksikan pada fakta sejarah bangsa arab. Pengaruh iman terhadap perubahan jiwa tidak hanya terjadi pada kehidupan masyarakat dan bangsa, namun juga terjadi terhadap individu, baik pria maupun wanita, seperti terjadi pada seorang laki-laki bernama Umar bin Khattab dan seorang wanita bernama Khansa`. Ternyata pribadi keduanya sebelum dan sesudah beriman jauh berbeda. Berkat pengaruh iman keduanya menjadi hamba Allah yang penuh taqwa dalam segala situasi dan kondisi.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Iman dan taqwa bukan merupakan kesatuan yang utuh, akan tetapi antara keduanya merupakan dua pengetahuan yang mempunyai hubungan yang erat sekali. Tinggi rendahnya nilai keimanan berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya nilai ketaqwaan. Sedangkan tinggi rendahnya nilai ketaqwaan sebagai bukti nilai kebenaran nilai iman yang dimiliki.
Peran iman, diantaranya menghilangkan gangguan jiwa, menumbuhkan keteguhan pendirian, menumbuhkan kekuatan pengendali hawa nafsu, menumbuhkan tawakkal, menciptakan tekat berbuat baik dan berperan menciptakan rasa cinta dan bahagia.
Pengaruh kekuatan iman melahirkan akhlak dan moral yang luhur dalam kehidupan manusia, seperti jujur, adil dalam segala situasi, diucapkan kebenaran walaupun terasa sangat berat, ditegakkan kebenaran sekalipun berakibat merugikan dirinya dan keluarganya, bersikap adil terhadap lawan sebagaimana bersikap adil di tengah-tengah kawan, masih banyak lagi norma-norma luhur yang dicetuskan oleh kekuatan iman. Oleh karena sangat patut sekali apabila dinyatakan bahawa iman dan taqwa adalah kunci pengalaman nilai-nilai luhur.

3.2 Saran

Kita hendaknya selalu beriman kepada Allah  karena iman itu dapat membentuk   masyarakat yang bertaqwa.

Friday, 25 January 2013

Cinta~


Rasa terpikat yang membuat gelisah
Debaran yang terasa menakutkan...
Sebetulnya aku benci padamu...
Tapi ternyata "cinta" bukanlah hal yang polos dan lugu

"Aku Suka"


Saat bersentuhan, dirinya dapat terasa di sini...
Sayang sekali jika aku harus membuang perasaan ini
Aku tidak tahu kapan...
Akan ku lukis beratus-ratus kali dalam hidupku
Untuk dirimu yang sekarang berada di depanku
Akan kuucapkan dialogku...
Hanya dua kata
"Aku suka"

Hati Tersambut


Untuk pertama kalinya saat aku menyentuh seseorang,
Aku merasa suara hatiku tersambut...
Dibelai oleh angin senja,
Dari lubuk hati yang paling dalam,
Aku hanya mengharapkan kebahagiaan orang itu...

Perasaan Berharga


Aku sudah menemukan suatu perasaan yang sangat berharga untukku yang pengecut ini...
Mulai sekarang dan seterusnya...
Izinkan aku terus berada di sampingmu...

Tuesday, 22 January 2013

Kehangatan


Hangat...
Ya,
Kehangatan seperti ini
Aku selalu meleleh karena kebaikan sikapnya.
Hangat dan lembut...
Tidak perlu kata-kata lagi...