Showing posts with label Tugas. Show all posts
Showing posts with label Tugas. Show all posts

Sunday, 4 August 2013

Dakon Sebagai Alat Peraga Matematika


PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang
FPB dan KPK adalah salah satu pokok bahasan dalam pelajaran matematika. Materi ini didapatkan pertama kali di tingkat Sekolah Dasar (SD). FPB dan KPK merupakan pengetahuan dasar dalam mempelajari matematika. FPB dan KPK digunakan dalam materi pecahan. Seorang siswa wajib memahami dengan baik tentang materi ini, sebab sebagian besar operasi matematika pada tahap selanjutnya tidak terlepas dari peranan FPB dan KPK.
Banyak anak yang merasa kesulitan untuk memahami dengan cepat materi ini. Mereka kesulitan karena bagian ini menuntut kemampuan seseorang membayangkan sesuatu. Untuk itu, di sini kami ingin memperkenalkan sebuah alat peraga yang bisa digunakan sebagai cara alternatif untuk lebih memahami pembahasan mengenai FPB dan KPK dengan mudah dan menarik. Dengan bantuan alat peraga, anak-anak diharapkan tidak takut lagi dengan pelajaran Matematika terutama dalam menentukan faktor persekutuan terbesar (FPB) dan soal kelipatan persekutuan terkecil (KPK).
2.  Rumusan Masalah
2.1.      Apa nama alat yang dibuat?
2.2.      Apa tujuan alat tersebut dibuat?
2.3.      Digunakan dalam materi apa  alat tersebut?
2.4.      Apa saja alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat alat tersebut?
2.5.      Bagaimana langkah kerja alat tersebut?
2.6.      Bagaimanakah model alat tersebut?
2.7.      Bagaimanakah cara kerja alat tersebut?
3.  Rumusan Tujuan
3.1.      Menjelaskan nama alat yang dibuat
3.2.      Menjelaskan tujuan alat tersebut dibuat
3.3.      Menjelaskan digunakan dalam materi apa  alat tersebut
3.4.      Menjelaskan alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat alat tersebut
3.5.      Menjelaskan langkah kerja alat tersebut
3.6.      Menjelaskan model alat tersebut
3.7.      Menjelaskan cara kerja alat tersebut
4.  Manfaat
4.1.      Manfaat Teoritis
Dapat mengetahui cara pembuatan serta fungsi alat peraga ini dalam proses pembelajaran.
4.2.      Manfaat Praktis
Dapat mempraktekkan sendiri cara membuat dan memainkan alat peraga ini dalam menentukan FPB dan KPK.

PEMBAHASAN

L A P O R A N
1. Nama Alat        : Dakon FPB dan KPK
2. Tujuan Alat     : Untuk menentukan faktor persekutuan terbesar (FPB) dan
                                   kelipatan persekutuan terkecil (KPK)
3. Materi               : Faktor persekutuan terbesar (FPB) dan kelipatan persekutuan
                                   terkecil (KPK)
4. Alat dan Bahan:
  1. Karton tebal 3 lembar
  2. Cetakan agar-agar 63 buah
  3. Lem Fox 1 botol
  4. Kertas HVS 2 lembar
  5. Biji-bijian misalnya biji pohon asem, sawo, batu kerikil atau kapur, secukupnya
  6. Gunting kertas
  7. Pisau / Cutter
  8. Penggaris
  9. Pensil
  10. Spidol
5. Langkah kerja :
  1. Menyiapkan semua alat dan bahan.
  2. Menyiapkan karton tebal sebagai alas.
  3. Mengukur letak ditempelkannya kertas yg bertuliskan angka 1 sampai 21 (bisa lebih dari 21 tergantung keperluan) di barisan paling atas dari alas, dengan ukuran 6,5 cm x 5 cm (bisa disesuaikan dengan keinginan).
  4. Membuat persegi panjang dengan ukuran 6,5 cm x 5 cm di atas kertas HVS dan menuliskan angka-angka tersebut di dalamnya dengan menggunakan spidol ataupun melalui komputer, gunting dan tempelkan di atas alas secara horizontal / mendatar.
  5. Potong karton tebal sepanjang angka-angka tersebut (138 cm) dengan lebar 5 cm (tinggi cetakan agar-agar) sebanyak 5 potong (bisa lebih sesuai keperluan) dengan menggunakan pisau atau cutter.
  6. Menempelkan salah satu karton tebal yang telah di oleskan bagian tebal karton terlebih dahulu dengan lem dalam keadaan tegak pada bagian bawah kertas HVS sepanjang angka tersebut sebagai pembatas antara angka dengan cetakan agar-agar.
  7. Membagi 63 buah cetakan agar-agar dalam 3 baris, masing-masing baris sebanyak 21 buah (bisa dibuat sesuai kebutuhan bilangan yang mau dihitung dengan cara menambah cetakan agar-agar, baik yang memanjang maupun yang membujur).
  8. Mengoleskan lem pada bagian bawah 21 cetakan agar-agar dan melekatkannya pada karton alas sejajar dengan setiap angka.
  9. Mengulang langkah kerja 6 dan 7 sampai hingga menghasilkan 3 baris horizontal cetakan agar-agar.
  10. Pada bagian paling bawah baris terakhir, dibuat 3 buah wadah yang berukuran agak besar sebagai wadah biji dakon. Bisa menggunakan cetakan agar-agar yang lebih besar ataupun dibuat sendiri dengan menggunakan potongan-potongan sisa karton tebal.
  11. Diamkan hingga lem benar-benar kering dan melekat.
  12. Dakon FPB  dan KPK siap digunakan.
6. Gambar   :

7. Cara Kerja Alat:
  • Menentukan FPB (Faktor Persekutuan Terbesar)
  1. Menentukan bilangan yang hendak dioperasikan. Misalnya hendak menentukan FPB 4 dan 10.
  2. Letakkan biji dakon di lubang-lubang baris pertama dan kedua sesuai dengan perkalian faktor dengan menyesuaikan dengan nomor lubang dakon. Syaratnya, siswa harus hafal kelipatan dan perkalian yang sudah diajarkan
    • Pada baris pertama, letakkan biji dakon pada setiap angka yang memuat faktor dari 4, yaitu, 1 dan 4.
    • Pada baris kedua, letakkan biji dakon pada setiap angka yang memuat faktor dari 10 yaitu, 1,2,5,dan 10.
  3. Dari kedua baris tersebut, kita bisa menentukan FPB dengan melihat biji dakon yang letaknya satu kolom atau berada pada nomor lubang dakon yang sama. Dari kedua operasi bilangan di atas, kita bisa lihat, bahwa biji dakon keduanya akan berada sama pada nomor 2. Hal ini berarti, FPB dari 4 dan 10 adalah 2.
  4. Cara kerja ini berlaku sama untuk menentukan FPB bilangan yang terdiri atas 3 angka.
  • Menentukan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil)
  1. Menentukan bilangan yang hendak dioperasikan. Misalnya hendak menentukan KPK 4 dan 10.
  2. Letakkan biji dakon di lubang-lubang baris pertama dan kedua sesuai dengan kelipatan bilangan-bilangan tersebut. Syaratnya, siswa harus hafal kelipatan dan perkalian yang sudah diajarkan
    1. Pada baris pertama, letakkan biji dakon di setiap lubang dengan mengingat bahwa tiap lubang mewakili kelipatan empat, yaitu 4, 8, 12,16,20, dan seterusnya.
    2. Pada baris kedua, letakkan biji dakon di setiap lubang dengan mengingat bahwa tiap lubang mewakili kelipatan sepuluh, yaitu 10, 20, 30, dan seterusnya.
  3. Mulai menghitung kelipatan masing-masing bilangan dengan cara memindahkan biji-biji dakon dari lubang pertama ke lubang selanjutnya sambil membandingkan jumlah masing-masing bilangan hingga didapatkan jumlah yang sama antara kedua bilangan.
  4. Dari kedua baris tersebut, kita bisa menentukan KPK jika kita telah mendapatkan biji dakon dengan jumlah yang sama antara keduanya. Dari kedua operasi bilangan di atas, kita bisa lihat, bahwa biji dakon keduanya akan berjumlah sama pada hitungan ke 20. Hal ini berarti, KPK dari 4 dan 10 adalah 20.
  5. Cara kerja ini berlaku sama untuk menentukan FPB bilangan yang terdiri atas 3 angka.

PENUTUP

1. Kesimpulan
            Dakon FPB dan KPK merupakan salah satu jenis alat peraga matematika yang dapat digunakan sebagai media dalam proses pembelajaran untuk menentukan FPB dan KPK suatu bilangan agar proses pembelajaran dapat lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
            Bagaimanapun, alat peraga ini memiliki kekurangan, yaitu dalam menentukan FPB, hanya bisa dilakukan terhadap bilangan-bilangan yang tidak lebih besar dari 21. Kalaupun ingin angka yang lebih besar, dapat diantisipasi dengan menambah jumlah lubang.
2. Saran
            Mencoba dengan angka-angka yang lebih besar dengan menambah jumlah lubang. Sering melakukan latihan-latihan agar menjadi lebih lancar lagi dalam menentukan FPB dan KPK.

Karakteristik Penilaian Portofolio, Kelemahan dan Kelebihan Penilaian Portofolio, dan Konversi Skor



PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang
Para pakar pendidikan dan psikologi di Indonesia banyak memberikan pandangan dan analisisnya terhadap mutu pendidikan, tetapi hingga saat ini tak pernah tuntas, bahkan muncul masalah-masalah pendidikan yang baru. Masalah mutu pendidikan yang banyak dibicarakan adalah rendahnya hasil belajar peserta didik. Padahal kita tahu, bahwa hasil belajar banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain sikap da kebiasaan belajar, fasilitas belajar, motivasi, minat, bakat, pergaulan, lingkungan keluarga, dan yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan profesional guru dalam melakukan penilaian hasil belajar itu sendiri.
Menyinggung tentang kemampuan profesional guru dalam melakukan penilaian proses dan hasil belajar, memang masih sangat kurang. Kebanyakan guru melakukan penilaian lebih menekankan pada hasil belajar, sedangkan proses belajar kurang diperhatikan bahkan cenderung diabaikan. Padahal, proses belajar sangat menentukan hasil belajar. Di samping itu, guru-guru juga terbiasadengan kegiatan-kegiatan penilaian rutin yang sifatnya praktis dan ekonomis, sehingga tidak heran jika guru banyak menggunakan soal yang sama dari tahun ke tahun. Hal ini sudah dialami oleh guru sejak mereka mulai bekerja sebagai guru sampai sekarang. Sebenarnya, guru pun sering mengikuti pelatihan tentang evaluasi pembelajaran atau penilaian hasil belajartetapi setelah pelatihan, mereka tetap kembali ke habitat semula, yaitu memberikan tes tertulis, baik dalam formatif maupun sumatif, tanpa melakukan variasi, perbaikan, penyempurnaan atau inovasi dalam pelaksanaan penilaian.
Mengingat cara-cara penilaian selama ini terdapat banyak kelemahan, maka sejak diberlakukannya KBK 2004, diperkenalkan suatu konsep penilaian baru yang disebut ”penilaian berbasis kelas” dengan salah satu model atau pendekatannya adalah ”penilaian berbasis portofolio”, yaitu suatu model penilaian yang dilakukan secara sistematis dan logisuntuk mengungkapkan dan menilai peserta didik secara komprehensif, objektif, akurat, dan sesuai dengan bukti-bukti autentik yang dimiliki peserta didik.
Untuk mengetahui karakteristik, kelebihan dan kelemahan model penilaian portofolio, serta mengetahui dan memahami tentang konversi skor, maka kami mencoba menyusun makalah ini sebagai salah satu referensi yang bisa digunakan oleh pembaca dalam melakukan penilaian hasil belajar.

2.  Rumusan Masalah
2.1 Bagaimanakah karakteristik penilaian portofolio?
2.2 Bagaimanakah kelebihan dan kelemahan penilaian portofolio?
2.3 Bagaimanakah konversi skor?

3.  Rumusan Tujuan
       3.1 Menjelaskan karakteristik penilaian portofolio,
3.2 Menjelaskan kelebihan dan kelemahan penilaian portofolio,
3.3 Menjelaskan mengenai konversi skor.
     
4.   Manfaat
4.1.      Manfaat Teoritis
Dapat mengetahui dan memahami karakteristik, kelebihan dan kelemahan model penilaian portofolio, serta mengetahui dan memahami tentang konversi skor.    
4.2.      Manfaat Praktis
Manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah agar pembaca terutama calon pendidik dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh sebagai  acuan  pendidikan dan pedoman dalam melakukan proses penilaian.


PEMBAHASAN
1. Karakteristik Penilaian Portofolio
Dalam dunia pendidikan, penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik.
Penilaian portofolio hanya dapat dilakukan jika pembelajarannya pun menggunakan pendekatan portofolio. Artinya, jika guru dalam pembelajaran hanya menuntut peserta didik untuk menghafal pengetahuan atau fakta pada tingkat rendah, maka penilaian portofolio tidak akan bermakna. Penilaian portofolio akan efektif jika pembelajarannya menuntut peserta didik untuk menunjukkan kemampuan yang nyata dan menggambarkan pengembangan aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai pada taraf yang lebih tinggi. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran portofolio tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Implikasinya adalah bahwa hasil pekerjaan peserta didik yang dinilai melalui penilaian portofolio adalah hasil pekerjaan peserta didik yang dilakukan baik di kelas maupun di luar kelas sesuai dengan tuntutan kompetensi dasarnya, tidak hanya dalam dimensi proses, tetapi juga dimensi produk.
Di samping itu, melalui penilaian portofolio, peserta didik dapat memantau perkembangan kemampuannya secara mandiri, menunjukkan cara belajar yang berbeda antara seorang peserta didik dengan peserta didik lainnya, menunjukkan kualitas hasil pekerjaannya, menunjukkan kelebihan yang mereka miliki, mengembangkan kemampuan bersosialisasi, dan memotivasi dirinya untuk lebih giat melakukan kegiatan belajar, memberikan peluang yang besar bagi peserta didik untuk melakukan dialog dengan guru dan orang tuanya secara intensif tentang kelebihan dan kekurangannya.
Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik.
Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik, gambar, foto, catatan perkembangan pekerjaan, dan sebagainya.
Menurut Barton dan Collins dalam S.Surapranata dan M.Hatta (2004) terdapat beberapa karakteristik esensial penilaian portofolio, yaitu multisumber, autentik, dinamis, eksplisit, integrasi, kepemilikan, dan beragam tujuan.


  1. Multisumber: Penilaian portofolio harus dilakukan dari berbagai sumber, seperti peserta didik, guru, orang tua, masyarakat, dan evidence lainnya, seperti gambar, lukisan, jurnal, audio, dan video tape, baik secara tertulis maupun tindakan.
  2. Autentik: Evidence yang dimaksud haruslah autentik dan berhubungan dengan program pembelajaran, kegiatan, standar kompetensi, komperensi dasar dan indikator yang hendak dicapai. Misalnya, jika guru ingin mengetahui kemampuan peserta didik tentang komputer, maka guru harus menilai secara langsung setiap peserta didik dalam menggunakan komputer, bukan dengan cara memberi tes tertulis tentang pengetahuan komputer. Begitu juga ketika guru ingin mengetahui kemampuan peserta didik dalam melaksanakan Senam Kesehatan Jasmani, tentunya guru harus melihat secara langsung bagaimana peserta didik menunjukkan atau mempraktikkan gerakan-gerakan Senam Kesehatan Jasmani, bukan memberikan tes tertulis tentang cara-cara melaksanakan Senam Kesehatan Jasmani.
  3. Dinamis: Penilaian portofolio menuntut adanya pertumbuhan dan perkembangan dari setiap peserta didik. Oleh karena itu, sebaiknya setiap evidence dari waktu ke waktu harus dikumpulkan dan didokumentasikan. Seandainya evidence tersebut akan dipilih, maka pilihlah secara selektif.
  4. Eksplisit: Penilaian portofolio juga harus jelas, baik jenis, teknik, prosedur maupun kompetensi yag akan diukur. Kejelasan yang dimaksud bukan hanya untuk guru, tetapi juga peserta didik.
  5. Integrasi: Dalam pelaksanaannya, antara kegiatan peserta didik di kelas dengan kehidupan nyata haruslah terintegrasi. Artinya, penilaian portofolio tidak lepas dari kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik  tidak jauh dari apa yang mereka alami. Peserta didik juga dapat dengan mudah mengaitkan antara kemampuan yang diperolehnya dengan kenyataan sehari-hari.
  6. Kepemilikan: Hal yang sangat penting dalam penilaian portofolio adalah adanya rasa memiliki bagi setiap peserta didik terhadap semua evidence yang dikumpulkan guru, sehingga peserta didik dapat menjaga dengan baik semua evidence.
  7. Beragam tujuan: Pelaksanaan penilaian portofolio bukan hanya mengacu pada kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, tetapi juga tujuan-tujuan lain yang bermanfaat bagi program pembelajaran, seperti keefektifan program, perkembangan peserta didik, dan dapat dijadikan alat komunikasi peserta didik ke berbagai pihak yang berkepentingan.
2. Kelebihan dan Kelemahan Penilaian Portofolio
Kelebihan model penilaian portofolio, antara lain sebagai berikut:
  1. Dapat melihat pertumbuhandan perkembangan kemampuan peserta didik dari waktu ke waktu berdasarkan feed-back dan refleksi diri.
  2. Membantu guru melakukan penilaian secara adil, objektif, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan tanpa mengurangi kreativitas peserta didik di kelas.
  3. Mengajak peserta didik untuk belajar bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik di kelas maupun di luar kelas dapalm rangka implementasi program pembelajaran.
  4. Meningkatkan peran serta peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelajaran dan penilaian.
  5. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan mereka.
  6. Membantu guru mengklarifikasi dan mengidentifikasi program pembelajaran.
  7. Terlibatnya berbagai pihak, seperti orang tua, guru, komite sekolah, dan masyarakat lainnya dalam melihat pencapaian kemampuan peserta didik.
  8. Memungkinkan peserta didik melakukan penilaian diri (self-assessment), refleksi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking).
  9. Memungkinkan guru melakukan penilaian secara fleksibel, tetapi tetap mengacu kepada kompetensi dasar dan indikator hasil belajar yang ditentukan.
  10. Guru dan peserta didik sama-sama bertanggung jawab untuk merancang dan menilai kemampuan belajar.
  11. Dapat digunakan untuk menilai kelas yang heterogen antara peserta didik yang pandai dan kurang pandai.
  12. Memungkinkan guru memberikan hadiah terhadap setiap usaha belajar peserta didik.
Kekurangan penilaian portofolio, antara lain sebagai berikut:
  1. Membutuhkan waktu dan kerja ekstra
  2. Penilaian portofolio dianggap kurang reliabel dibandingkan dengan bentuk penilaian yang lain.
  3. Ada kecendrungan guru hanya memperhatikan pencapaian akhir sehingga proses penilaian kurang mendapat perhatian.
  4. Jika guru melaksanakan proses pembelajaran yang bersifat teacher-oriented, kemungkinan besar inisiatif dan kreativitas peserta didik akan terbelenggu sehingga penilaian portofolio tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
  5. Orang tua peserta didik sering berpikir skeptid karena laporan hasil belajar anaknya tidak berbentuk angka.
  6. Penilaian portofolio masih relatif baru sehingga banyak guru, orang tua, dan peserta didik yang belum mengetahui dan memahaminya.
  7. Tidak tersedianya kriteria penilaian yang jelas.
  8. Analisis terhadap penilaian portofolio agak sulit dilakukan sebagai akibat dikuranginya penggunaan angka.
  9. Sulit dilakukan terutama menghadapi ujian dalam skala nasional.
  10. Dapat menjebak peserta didik jika terlalu sering menggunakan format yang lengkap dan detail.
3. Konversi Skor
Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh. Secara tradisional, dalam menentukan nilai peserta didik pada setiap mata pelajaran, guru meggunakan rumus sebagai berikut:
Contoh:
Seorang peserta didik dites dengan menggunakan bentuk soal B – S (Benar – Salah). Dari jumlah soal 30, peserta didik tersebut memperoleh jawaban betul 25, dan jawaban salah 5. Dengan demikian, skor mentahnya adalah 25 – 5 = 20.
Di samping cara tersebut di atas, ada juga guru yang langsung menentukan nilai berdasarkan jumlah jawaban yang betul. Tanpa mencari skor mentah terlebih dahulu. Sesuai dengan contoh soal di atas, maka nilai peserta didik dapat ditemukan seperti berikut ini.
Kedua pola konversi seperti ini mengandung banyak kelemahan, antara lain guru belum mengantisipasi item-item yang tidak seimbang dilihat dari tingkat kesukaran dan banyaknya item yang disajikan dalam naskah soal. Padahal, setelah menentukan nilai, guru perlu meninjau kembali tentang seberapa besar peserta didik memperoleh nilai di bawah batas lulus (passing grade). Untuk itu, sudah saatnya guru meninggalkan pola konversi yang tradisional tersebut. Guru hendaknya menggunakan konversi sebagai berikut:
  1. Membandingkan skor yang diperoleh peserta didik dengan suatu standar acuan atau norma absolut. Pendekatan ini disebut juga Pendekatan Acuan Patokan (PAP).
  2. Membandingkan skor yang diperoleh peserta didik dengan standar atau norma relatif atau disebut juga Penilaian Acuan Norma (PAN).
  3. Membandingkan skor yang diperoleh peserta didik dengan standar gabungan (kombinasi) antara norma absolut (PAP) dengan norma relatif (PAN).
Kesalahan sering terjadi pada pemberian nilai akhir, dimana hasil skoring dianggap sebuah nilai akhir. Padahal seharusnya hasil skoring tersebut harus dikonversi dulu menjadi nilai akhir dalam bentuk skala yang sudah ditetapkan sebelumnya, dalam bentuk skala 1-4, skala 1-10 dan skala 1-100. berikut akan dibahas cara mengkonversi hasil skor menjadi nilai akhir.
Konversi Sederhana
Cara ini sangat sederhana dan mengabaikan tingkat ketelitian dan keakuratan data, tidak mustahil akan terjadi kesalahan interpretasi. Karena cara ini mengabaikan tingkat variansi kemampuan mahasiswa. Misalnya kriteria yang digunakan dalam bentuk persentase.

Nilai 10 bila mencapai angka 100%

Konversi dengan Menggunakan Mean dan Standar Deviasi
Cara ini lebih akurat karena sudah mempertimbangkan tingkat variansi hasil belajar, sehingga nilai akhir sangat ditentukan oleh kelompoknya. Bila standar deviasinya kecil maka interval nilainya juga kecil. Sebaliknya bila standar deviasinya besar, maka interval nilainya juga besar. Konversi cara ini biasanya dilakukan untuk penilaian standar 10 dan standar 4 atau standar huruf.
Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 10 adalah sebagai berikut:

M + 2,25 (SD) = 10
M + 1,75 (SD) = 9
M + 1,25 (SD) = 8
M + 0,75 (SD) = 7
M + 0,25 (SD) = 6
M - 0,25 (SD) = 5
M - 0,75 (SD) = 4
M - 1,25 (SD) = 3
M - 1,75 (SD) = 2
M - 0,25 (SD) = 1
Catatan : M = Mean atau nilai rata-rata
SD = Standar Deviasi
Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 4 atau standar huruf adalah sebagai berikut:


PENUTUP

1. Kesimpulan
Menurut Barton dan Collins dalam S.Surapranata dan M.Hatta (2004) terdapat beberapa karakteristik esensial penilaian portofolio, yaitu multisumber, autentik, dinamis, eksplisit, integrasi, kepemilikan, dan beragam tujuan.
Di samping itu, penilaian portofolio juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Sehubungan dengan hal itu, guru perlu mewaspadai kelemahan-kelemahan tersebut. Apabila kelemahan-kelemahan tersebut dapat ditekan dan dihindari, penggunaan penilaian portofolio akan bermanfaat sebagai salah satu upaya meningkatkan mutu pembelajaran.
Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh.
2. Saran
Apa yang sudah dipaparkan adalah menurut konsep dan teori evaluasi hasil belajar sepanjang yang kami ketahui dan sesuai dengan kebutuhan kami. Masih ada hal-hal lain yang seharusnya dimasukkan dalam tulisan ini. Pelajari juga materi-materi lainnya yang berkaitan materi ini agar pemahaman kita bisa lebih mantap dan bertambah lagi.